Danau Tuo Koto Sani, Danau yang 'Terlupakan'

"Secara kasat mata, Danau Tuo luasnya tidak lebih dari 4 kali lapangan sepak bola"
Wabup Solok Yulfadri Nurdin saat menyisir tepian Danau Tuo (Istimewa)
menengok danau yang difungsikan sebagai sumber air masyarakat sekitar. Usai pertemuan ulama Tareqah se-Asean di Pesantren Rabbani Koto Sani, Minggu 2 April 2017.

Menyisir keheningan Danau Tuo, Wabup Solok Berjalan dihamparan sawah dan berdiri lepas di bibir danau yang sudah bisa diakses dengan mobil. Sesekali, sambil berdecak kagum Yulfadri Nurdin menyibak air permukaan danau yang tenang.

"Pesona Danau Tuo, kalau dikelola dengan baik akan sangat menjanjikan bagi perkembangan kepariwisataan kabupaten Solok," paparnya.

Tak puas dengan persinggahan di ujung sore itu, Wabup Yulfadri Nurdin mengaku akan kembali berkunjung bersama pejabat teknis terkait guna mendengar harapan masyarakat terhadap pengembangan danau Tuo.

Ia antusias mengembangkan potensi danau ini, kecuali karena panorama alam dan lokasinya yang berada di ketinggian, secara historis mungkin saja merupakan danau tertua yang ada di Kabupaten Solok.

"Kita akan coba kembangkan potensi danau ini, secepatnya akan kita rancang grand design danau agar lebih memukau aspek keindahannya untuk mennjadikannya destinasi wisata pilihan di wilayah utara Solok," kata Yulfadri kemudian.

Sudah terlukis dalam benaknya konsep pengembangan Danau Tuo. Selain disolek sejumlah titik danau, penambahan taman bunga. Wahana wisata air sederhana juga masuk dalam rentetan konsep pengembangan danau tuo.

"Tak cukup hanya dengan konsep, Untuk mewujudkan itu, kita harap pemangku kepentingan mengusulkan pembenahannya melalui Musrenbang dari tingkat nagari," tutur dia.

Guyuran gerimis menghantar langkah wabup bersama rombongan meninggalkan danau tuo dengan segudang harapan yang siap diwujudkan.

[Syafriadi]