Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo: Memadukan Dua Budaya Lewat Makanan

"Selama pembukaan berlangsung, lokasi acara tampak diramaikan oleh warga Tionghoa dan Minangkabau"
Pertunjukan seni saat pembukaan Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo (KLIKPOSITIF/Ocky Anugrah Mahesa)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kementerian Pariwisata, Pemprov Sumbar dan Pemko Padang resmi membuka Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo di jalan Batang Harau, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Kamis 6 Juni 2019.

Festival ini dibuka oleh Koordinator Kalender Iven Kementarian Pariwisata, Raseno Arya. Pembukaan juga dihadiri oleh pejabat Pemprov Sumbar dan Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah.

Selama pembukaan berlangsung, lokasi acara tampak diramaikan oleh warga Tionghoa dan Minangkabau yang datang untuk menyaksikan acara tersebut.

Dalam pembukaan, Raseno Arya mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam pengadaan festival. Ia mengatakan, acara ini merupakan yang pertama kalinya digelar di Indonesia.

"Dari kegiatan ini, kita ingin memperlihatkan ke dunia bahwa orang Minang itu punya rasa keberasamaan yang tinggi. Sebab nilai dari iven adalah kolaborasi dua budaya antara Minang dan Tionghoa," katanya.

Bakcang Ayam dan Lamang Baluo, kata Raseno adalah dua makanan yang memiliki sejarah tersendiri bagi dua budaya tersebut.

Bagi masyarakat Tionghoa, Bakcang Ayam dulunya merupakan makanan yang wajib disantap pada peringatan hari besar sesuai dengan penanggalan kebudayaan Cina. Begitu pula bagi masyarakat Minangkabau, makanan Lamang Baluo juga kerap dinikmati ketika merayakan hari besar Islam.

"Kebetulan, dalam sejarahnya dua budaya ini memakan Bakcang Ayam dan Lamang Baluo bertepatan dengan perayaan Idul Fitri. Itu pula yang jadi alasan kami untuk mengadakan festival ini di momen lebaran," sebut Raseno.

"Di sisi lain, kami ingin memperlihatkan ke provinsi tetangga bahwa perbedaan itu indah," tukasnya kemudian.

Sementara itu ketua Festival Bakcang Ayam dan Lamang Baluo, Alam Gunawan menyebutkan, kedua makanan ini terbuat dari bahan yang sama, yakni ketan.

Namun, kedua budaya memiliki cara yang berbeda dalam mengolah ketan tersebut. ... Baca halaman selanjutnya