Suka Makan Lapek Nagosari? Begini Cara Membuatnya

Lapek Nagosari
Lapek Nagosari (Net)

PADANGPARIAMAN , KLIKPOSITIF --  Lapek Nagosari , merupakan makanan khas Minangkabau. Lapek (lepat) ini banyak ditemui di pasar-pasar tradisional di Sumbar.

Dalam tradisi Minangkabau Lapek Nagosari juga banyak digunakan untuk melengkapi jamuan adat semacam Baralek (pesta), Manjalang Kabako, Manjalang Mintuo, Tagak Kudo-kudo Rumah dan lain sebagainya.

baca juga: Pemkab Padang Pariaman akan Selidiki Penyebab Ambruknya Jembatan Sikabu-Lubuak Aluang

Perhelatan adat tersebut diantaranya menyuguhkan Lapek Nagosari kepada tamu atau yang ditemui. Lapek Nagosari melekat dalam tradisi turun temurun hingga saat ini.

Di kawasan Batu Basa, Kabupaten Padang Pariaman -Sumbar, misalnya, tradisi menyuguhkan lapek sebagai isi juadah atau buah tangan menjadi salah satu syarat mutlak.

baca juga: Jembatan Ambruk, Ini Kata BPBD Padang Pariaman

Salah satu ibu rumah tangga bernama Eni (47) tahun, menjadi salah satu orang yang dipercaya warga setempat sebagai pembuat lapek dan jamuan makanan adat lainnya yang handal.

"Sehabis lebaran, banyak orang baralek. Etek (panggilan) banyak terima pesanan, bahkan sampai seribu bungkus lapek nagosari ," kata Tek Ni kepada KLIKPOSITIF saat ditemui di rumahnya, Jumat 14 Juni 2019.

baca juga: Jembatan Sikabu Padang Pariaman Ambruk, Seorang Pekerja Meninggal dan 4 Lainnya Dilarikan ke Rumah Sakit

Untuk harga, jelas Tek Ni, satu bungkus dijual seharga Rp1.000. Sehari dia mampu memasak sekitar 300 bungkus.

"Sehari sekitar tiga ratus bungkus bisa etek bikin. Yang memesan warga sekitar sini, untuk isi adat, atau disandingkan dengan juadah saat baralek," jelas Tek Ni.

baca juga: Warga Padang Sago Galang Dana untuk Pengobatan Juni Arita

Kebiasaan warga yang memilih hari pesta setelah lebaran, karena dianggap waktu yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Tak banyak orang yang cakap dalam membuat Lapek Nagosari . Jika anda menyukainya, Tek Ni memberikan tips untuk memasak Lapek Nagosari .

Menurutnya, hal pertama yang dilakukan, yaitu mendidihkan santan.

"Kemudian masukkan cairan tepung beras dan gula, lalu aduk adonan hingga merata. Setelah adonan kental, diangkat dari perapian," jelas Tek Ni.

Lebih lanjut dijelaskannya, setelah adonan kental dan diangkat dari perapian, saatnya untuk menaburkan tepung sagu hingga rata. "Usai itu, masak lagi seluruh adonan sesuai durasinya sekitar seperempat jam, lalu adonan sudah bisa dibungkus ke daun pisang," kata Tek Ni.

Daun pisang merupakan pembungkus lapek yang paling banyak diminati, selain alami, daun pisang juga mempunyai aroma yang mampu memengaruhi kenikmatan cita rasa lapek.

"Dalam setiap bungkusan lapek di daun pisang sudah disediakan potongan kecil pisang. Setelah dibungkus semuanya, tinggal mengukus saja lagi hingga matang," jelas Tek Ni.

[Rehasa]

Penulis: Iwan R