Jembatan Akar, Mengenal Destinasi Wisata di Pessel

Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-puluik, Bayang Pesisir Selatan
Jembatan Akar di Kenagarian Puluik-puluik, Bayang Pesisir Selatan (KLIKPOSITIF/Kiki JP)

PESSEL, KLIKPOSITIF -Jika datang ke Kabupaten Pesisir Selatan, tentu terasa rugi jika tidak menyinggahi daerah yang berjarak sekitar 10 km dari persimpangan kecamatan Bayang menuju Kenagarian Puluik-puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara. Di daerah ini terdapat jembatan yang dibuat dari jalinan akar pohon yang merambat. Jembatan Akar, begitu warga menyebutnya.

Persimpangan Bayang menuju ke lokasi Jembatan Akar ini persis berada di jalan Nasional lintas Sumatera bagian Barat yang menghubungkan Padang ke Painan, Muko-Muko dan Bengkulu. Akan memakan sekitar 30 menit perjalanan untuk menuju lokasi ini dengan menunggunkan kendaraan sepeda motor maupun kendaraan roda empat.

baca juga: Pelanggaran Prokes di TMSBK, Ini Sanksi yang Diterima Kadisparpora Bukittinggi

Jika menurut cerita masyarakat setempat Jembatan Akar ini tercipta karena seorang ulama besar bernama Pakia Sokan. Sang ulama berniat menyatuhkan dua kampung masyarakat di Kenagarian Puluik-puluik yang terpisahkan oleh aliran sungai Batang Bayang.

Dua nagari tersebut adalah Kampung Puluik-puluik dengan Kampung Lubuk Silau Batang Bayang. Penyatuan dua kampung ini akan mempermudah akses penyebaran ajaran agama Islam di masa itu.

baca juga: Lurah Silaing Bawah Padang Panjang Prakarsai Wisata Alam Berbasis Pendidikan

Jembatan ini diperkirakan, dirajut menjadi satu dari gabungan akar pohon Beringin sejak tahun 1890 hingga dapat digunakan pada tahun 1916. Dari kisah masyarakat  jembatan akar tersebut proses merajut akar hingga menjadi jembatan utuh memakan waktu hingga 26 tahun.

Herman, pengelola jembatan yang telah bekerja sejak 2008 menyebutkan, jembatan itu mulai disahkan menjadi destinasi wisata oleh pemerintah daerah setempat pada 1992. Jembatan Aka ini terus menjadi salah satu ikon wisata yang pertama kali dikunjungi oleh para pencinta alam terutamanya wisatawan jika datang ke daerah ini.

baca juga: Bangkit dari "Mati Suri" Setelah 44 Tahun, Stasiun KA Tertua di Sumbar Kembali Beroperasi

Jembatan bisa mampu menampung beban paling banyak untuk 10 orang. Kekokohan jembatan yang terbangun atas rajutan akar-akar pohon Beringin dan Jawi-jawi itu. Agar jembatan ini tetap awet, kata Herman, diperlukan sejumlah perawatan.

Perawatan yang dilakukan itu, diantaranya merawat tunas akar untuk bisa subur dan hingga besar yang membuat akar-akar yang lainnya tetap tahan dan kokoh dari kerusakan.

baca juga: Termasuk Indonesia, Arab Saudi Larang Masuk Warga dari 20 Negara Asing

"Sekali dalam tiga bulan kita lakukan penyuburan tunas akar-akar dengan cara menggunakan batang Pisang yang sudah mebusuk, dan kita rajut dengan belahan bambu, hingga ditunggu sampai masa enam bulan. Ini dilakukan secara terus menerus dengan harapan akar terus terjaga," katanya saat diwawancarai KLIKPOSITIF .

Selain itu, kata dia, juga harus memperhatikan gangguan alam dan kejahilan tangan-tangan manusia yang akan merusak. "Itu juga kita pantau, seperti banjir Batang Bayang yang sering meluap. Lalu tangan-tangan jahil yang berniat untuk merusak," kata Herman.

Saat wisatawan ingin berkunjung ke jembatan ini, hanya dikenakan biaya retribusi tiket seharga Rp5 ribu dan retribusi parkir motor Rp3 ribu dan mobil Rp5 ribu. Ketika sudah sampai di lokasi dan melihat jembatan ini, maka rasa penat akan terasa menghilang.

Kiki Julnasri Priatama

Penulis: Ramadhani