Tak Dirawat, Bangunan Tua Bisa Disita Pemerintah

Salah satu bangunan tua milik Bank Indonesia di kawasan Pondok, Kota Padang.
Salah satu bangunan tua milik Bank Indonesia di kawasan Pondok, Kota Padang. (blueoctopus13.wordpress.com)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Padang memiliki potensi untuk mengembangkan kota tua. Sayangnya, masih ada kendala untuk mewujudkannya, salah satunya masih banyaknya bangunan tua yang masuk kategori heritage tak terawat. Meski begitu Pemko Padang terus berupaya mewujudkan kota tua yang diberi nama Padang Heritage tersebut.

Hal di atas terungkap dala diskusi antara Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Padang, akademisi, pegiat wisata, wartawan dan blogger di salah satu kafe bernuansa bangunan tua di kawasan Pondok, Jumat 12 Mei 2017.

baca juga: Foresthree Coffee Resmikan Outlet Cabang Batang Arau

Pada diskusi yang dihadiri Ketua Yayasan Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan dan Pariwisata (Gema Pelita), Syafriawati, Direktur Pusat Studi Pariwisata Unand, Sari Lengogeni, dan para stakeholder pariwisata itu, Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Padang mengungkapkan beberapa masalah pengembangan Padang Heritage .

Menurut Medi, masih banyak bangunan tua di kawasan Kota Tua, tepatnya di Pondok yang tak terawat. Sayangnya, Pemko Padang tak bisa menganggarkan dana perbaikannya dan perawatannya karena terhalang regulasi.

baca juga: Terdapat 30 Objek yang Bisa Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya di Payakumbuh

Kata Medi, berdasarkan Pasal 75 UU 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dijelaskan bahwa pemilik dan pengelola wajib memelihara bangunan tua yang termasuk cagar budaya . Jika tidak dipelihara, maka pemerintah boleh menguasainya dengan jalan disita.

Regulasi di atas membuat pemerintah tak bisa menganggarkan dana untuk membantu merawat dan memugarnya. Apalagi sebagian besar bangunan itu merupakan milik pribadi. “Jika milik instansi pemerintah boleh dibantu dipugar, namun kalau milik pribadi, BUMN dan swasta tidak boleh dipugar oleh pemerintah,” jelas Medi Iswandi .

baca juga: Payakumbuh Miliki 27 Bangunan Bernilai Sejarah dan Bisa Ditetapkan Sebagai Cagar Budaya

Sementara untuk pengembangan wisata marina di kawasan Batang Arau menurut Medi adalah sungai yang kembali tak terawat, adanya pendangkalan sungau, sampah kiriman, hingga bangkai kapal.

Meski memiliki banyak kendala, para peserta diskusi sepakat bahwa semua pihak akan bergerak untuk mewujudkan Padang Heritage dan sama-sama berusaha mencarikan solusi untuk mengatasi berbagai kendala tersebut.

baca juga: RTH Jembatan Ratapan Ibu Terus Dipercantik, Pemko Siapkan Anggaran Rp600 Juta

Disbudpar akan menganggarkan dana untuk membuka memori warga dan wisatawan tentang sejarah bangunan-bangunan tua yang termasuk cagar budaya tersebut.

“Kami akan telusuri foto-foto dan sejarah bangunan tersebut. Kita pajang foto tempo dulunya. Di beberapa titik akan kita pasang peta Padang Heritage dan kita juga akan bikin peta dan aplikasi Padang Heritage ,” jelas mantan Kepala Dinas Pariwisata Sawahlunto itu.

Direktur Pusat Studi Pariwisata Unand, Sari Lengogeni juga mengingatkan agar Pemko Padang mengupayakan memberikan landmark Padang Heritage dan memasang petunjuk jalan untuk cagar budaya yang bisa dijadikan destinasi wisata.

Sementara Ketua Gema Pelita Sumbar, Syafriawati meminta agar semua pihak terlibat mewujudkan Padang Heritage . “Padang memiliki potensi besar, jika terwujud kota tuanya akan jauh lebih bagus dibanding kota-kota lainnya. Namun kita semua harus ikut membantu pemda mewujudkannya,” ulas perempuan yang akrab dipanggil Bundo Wati ini.

[Hijrah Adi Sukrial]

Penulis: Hijrah Adi Sukrial