Kembalinya 'Simpang Tigo Buayo Putiah Taratak' di Pessel

Objek wisata Simpang Tigo Buayo Putiah Taratak
Objek wisata Simpang Tigo Buayo Putiah Taratak (Istimewa)

PESSEL , KLIKPOSITIF  -- Dengan semangat yang tinggi, pemuda dan masyarakat di Nagari Taratak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan , Sumatera Barat menghidupkan ikon wisata baru di nagari setempat.

Sejak dulu ikon wisata di Nagari Taratak sudah dikenal banyak masyarakat. Hanya saja, kekiniannya redup dan tidak begitu populer lagi. Bisa dikatakan, objek wisata ini merupakan pendongkrak wisata arah bagian tengah kabupaten ini.

baca juga: Dua Kasus Positif di Pessel Hari Ini, Anak dan Sopir dari Perantau Asal Kambang

Objek wisata yang mulai dihidupkan itu, biasa disebut dengan nama " Simpang Tigo Buayo Putiah Taratak ". Konon nama tersebut diambil dari legenda nagari setempat.

"Namanya diambil dari legenda yang ada di kampung ini. Konon, dulu ada sepasang buaya putih dan sampai sekarang melekat menjadi nama pantai ini," ungkap Dodi Saputra, Ketua Pemuda setempat kepada KLIKPOSITIF .

baca juga: Hari ini Dua Warga Pessel Terkonfirmasi Positif Covid-19

Sedangkan Simpang Tigo sendiri, diambil karena di pantai itu ada pertemuan dua hilir sungai dengan muara tersebut dan letak wilayah di Nagari Taratak, hingga disebut "Simpang Tigo Buayo Putih Taratak."

"Jadi karena kejadian seperti itu, sampai saat ini dikenal sebagai pantai Simpang Tigo Buayo Putih Taratak," ulasnya.

baca juga: Seorang Guru Kontak Erat dengan Pasien Positif COVID-19, Aktivitas di SMKN 1 Sutera Ditutup

Setelah lama redup, hari ini kondisinya mulai direnovasi. Dulunya, tidak ada fasilitas penyebaranngan, kini sudah dibangunkan jembatan.

"Ini ide kami bersama (pemuda dan masyarakat). Karena, kami ingin Simpang Tigo Buayo Putih dikenal kembali," ujarnya.

baca juga: 24 Orang di Pessel Kontak dengan Pasien Kluster Bank Nagari Padang, Salah Satunya Guru

Baru tiga bulan setelah direnovasi, kini pantai yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Painan tersebut sudah mulai didatangi pengujung.

"Alhamdulillah, sudah mulai dikunjungi. Setiap hari pengujung selalu ada, terutama sore hari," terangnya.

"Setelah jembatan 50 meter ini (yang terbuat dari bambu dan kayu). Nanti rencana kami juga mau bangun musala terapung," tutupnya.

[Kiki Julnasri]

Penulis: Iwan R