Bukik Bukua, Spot Paralayang Terbaik di Agam Selain Puncak Lawang

Ilustrasi pilot terbang
Ilustrasi pilot terbang (KLIKPOSITIF)

AGAM , KLIKPOSITIF - Bagi pecinta olahraga ekstrem paralayang dalam dan luar negeri, Kabupaten Agam adalah salah satu daerah yang tidak asing. Spot Puncak Lawang yang berada di Kecamatan Matur menjadi tujuan para pilot untuk menyalurkan hobi terbang mereka.

Sekarang, para pecinta olahraga terbang bebas memiliki spot lain untuk menyalurkan hobi. Namanya Bukik Bukua. Spot yang terletak di Nagari Tabek Panjang, Kecamatan Baso itu disebut memiliki keunikan dan keunggulan tersendiri.

baca juga: Hari Rabies Sedunia, Distan Agam Vaksin Puluhan Hewan Peliharaan

Selasa 16 Juni 2020, komunitas paralayang ( Agam , Bukittinggi dan Solok) melakukan uji terbang di spot yang berada di ketinggian 912 dpl itu.

"Alhamdulillah Agam punya lagi destinasi wisata paralayang di tempat yang baru di Nagari Tabek Panjang. Tadi siang kita ujicoba bersama teman-teman dari Agam , Bukittinggi dan Solok," kata Hendri Uwo, salah satu anggota komunitas paralayang Agam pada KLIKPOSITIF , Selasa malam.

baca juga: Jumlah Kumulatif Kasus COVID-19 di Agam Capai 7.771

Menurut Uwo, Spot Bukik Bukua memiliki keunggulan dan keunikan sendiri karena mempunyai dua arah take Off. Ketika angin barat, terbang pilot ke arah Pasar Baso. Jika angin dari timur terbang pilot ke arah STPDN.

"Lokasi landing di belakang SMA 1 Baso. Take off bisa ke arah timur. Untuk latihan ketepatan mendarat sangat cocok sekali, karna akses jalan yang tidak begitu jauh," jelas Uwo.

baca juga: Danau Maninjau Diharapkan Jadi Super Prioritas Penyelamatan Danau

Jika dikelola dengan baik, Uwo yakin Spot Bukik Bukua akan menjadi tujuan pecinta paralayang . "Lebih dari itu, kita berharap akan lahir atlet paralayang di Baso," kata Uwo yang juga merupakan seorang atlet ini.

Sebelumnya, Bukik Bukua adalah lokasi yang sering dikunjungi generasi muda untuk hunting foto dan menikmati sunset.

baca juga: Diimingi Gaji 200 Ribu Perhari, Gadis di Bawah Umur Diperkosa dan Ditinggal di Kebun Sawit

Editor: Rezka Delpiera