Ada Jembatan Air Mata Yakub di Koto Tinggi Lima Puluh Kota, Begini Kisahnya

Warga Melintas di Jembatan Air Mata Yakub
Warga Melintas di Jembatan Air Mata Yakub (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

LIMA PULUH KOTA , KLIKPOSITIF - Sebuah kisah senyap tentang perjuangan Republik tersimpan di sebuah jembatan yang berlokasi di Mudiak Dadok, Jorong Sungai Dadok, Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Gunung Omeh, Kabupaten Limapuluh Kota-Sumbar.

Jembatan saksi perjuangan menentang agresi Belanda itu dinamakan Jembatan Air Mata Yakub. Terkait namanya yang memilukan, tersimpan sebuah cerita pilu yang melatarbelakangi penamaannya.

baca juga: Dekan Fakultas Pariwisata UMSB Ajak Warga Vote Kampung Wisata Sarugo Untuk Menangkan API 2020

Zulfikri Tuanku Gindo, tokoh lokal sekaligus anak dari pelaku sejarah yang menyaksikan kejadian itu mengatakan, dahulunya daerahnya merupakan basis militer Republik semasa Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Untuk menjalin komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai pihak untuk membuktikan Indonesia masih berdiri di mata Internasional, kendati diagresi Belanda, tentu saja membutuhkan sarana komunikasi. Saat itu, yang tersedia hanyalah sebuah pemancar radio yang mesti digotong beramai-ramai berkeliling Sumatera Barat karena sangat berat.

baca juga: Terganggu Pandemi COVID-19, Sejumlah Program Kejari Payakumbuh Harus Disesuaikan

"Pemancar radio kemerdekaan dibawa ke sini, saat itu jembatan ini masih kecil dan terbuat dari kayu. Jembatan tak sanggup menahan berat dan patah," kata Zulfikri.

Akibatnya, pemancar yang sangat berharga itu, jatuh ke sungai Batang Angek di bawahnya. Tinggi jembatan ke permukaan sungai sekitar 4 meter.

baca juga: Termasuk Mantan Kepala Inspektorat Lima Puluh Kota, 3 Tersangka Dugaan Korupsi Transmigrasi Ditahan

"Kejadiannya malam-malam di tahun 1949, Bulan Februari. Semalam itu juga sender itu dikeluarkan dari sungai beramai-ramai. Menangislah Pak Yakub, karena diketahui radio itu telah rusak," sambungnya.

Yakub yang dimaksud Zulfikri adalah M.Yakub Lubis, perwira dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang bertanggung jawab atas sender itu.

baca juga: Jasa Pengiriman Paket di Payakumbuh Didominasi Rendang

"Pak Yakub menangis, jika radio itu rusak bagaimana cara memberitahukan kepada dunia jika Indonesia masih ada?untungnya radio bisa diperbaiki beberapa hari kemudian," kata Zulfikri.

Akibat kejadian itu, hingga sekarang jembatan itu dinamai Jembatan Air Mata Yakub. Kekinian, sejak 2019 jembatan itu sudah dipermanenkan dengan ukuran 3,5 x 4 meter. Kendati telah berubah, namanya tetap Jembatan Air Mata Yakub.

Jembatan ini berada jauh dari pemukiman, di areal persawahan di tepi Bukit Barisan sehingga tak banyak dilewati warga. Tak disangka, di jembatan terpencil ini pernah terjadi sebuah peristiwa yang mengancam keutuhan Republik.

Penulis: Hatta Rizal | Editor: Haswandi