Belajar Beternak Sambil Berwisata di Mossa Edufarm Solok

Moosa edufarm Solok
Moosa edufarm Solok (KLIKPOSITIF/ Fitria Marlina)

SOLOK, KLIKPOSITIF - Belajar pemanfaatan teknologi untuk bidang peternakan sambil berwisata adalah hal menarik untuk dilakukan. Tak hanya dapat ilmu soal peternakan, namun juga bisa menikmati pemandangan pegunungan nan sejuk dan indah.

Adalah Moosa Edufarm yang beralamat di Rawang Lubuk Selasih, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut, kawasan wisata agrokultural dengan udara sangat sejuk ini benar-benar berhasil menghilangkan penat Anda setelah seminggu bekerja.

baca juga: Ada Destinasi Baru di Bukik Batabuah, Panorama Tabek Gadang yang Indah

Moosa Edufarm merupakan daerah untuk mengembangkan wilayah pertanian mulai dari pembibitan hingga produk akhir. Menurut owner Moosa Edufarm, dr Ivan Sini SpOG, pihaknya ingin mengangkat budaya dan kekuatan agrikultur lokal.

"Dan perlu tahu bahwa kekuatan itu harus dipublikasikan ke banyak orang, karena masih banyak orang yang belum tertarik dan berminat mengembangkan agrikultur. Di Moosa Edufarm, kita melakukannya dengan mulai dari pembibitan hingga produk akhir. Kebetulan kami mempunyai fasilitas yang bisa memberikan informasi dan pencerahan soal beternak sapi," katanya saat soft opening Moosa Edufarm, Selasa, 21 Juli 2020.

baca juga: Ngalau Agam Tabik, Salah Satu Potensi Wisata Alam di Kecamatan Baso

Ia mengatakan pihaknya mengembangkan pembibitan sapi perah dan sapi wagyu. "Kebetulan kami ada di peternakan sapi perah, dan kita menggunakan sapi perah itu untuk dua produksi, pertama untuk pembibitan sapi perah dan kedua untuk sapi wagyu," jelasnya.

Pembibitan sapi perah digunakan untuk peningkatan susu lokal di Sumatera Barat (Sumbar), dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi pihaknya. "Karena susu bukan merupakan suatu makanan atau minuman utama untuk Sumbar, namun kita lihat banyak sekali turunan susu, ada ice cream, gelato, keju mozarella, dan lainnya. Dan dalam hal ini kita berkolaborasi dengan pihak lain atau mitra yang lebih banyak lagi agar berkembang lebih baik, dan tentu kita membuat suatu produk yang menjadi kebanggan kita semua, dan itu harus disampaikan, bukan hanya ke pemerintah, tapi juga ke masyarakat," terangnya.

baca juga: Lagi Viral, Kafe Pinggir Sawah di Kamang Mudiak Agam

Hasilnya susu per hari ditargetkan 15 sampai dengan 20 liter. "Sekarang masih 10 liter untuk mencari pasar dalam menjual produk. Jika pasar nantinya menerima, maka akan kita tingkatkan. Itu semua tergantung pada pasar. Sedangkan untuk sapi, saat ini jumlahnya 30 ekor sapi perah dan nanti akan ditambah hingga 150 atau 200 ekor. Sedangkan untuk sapi wagyu, yang dikembangkan adalah embrio dan pedetnya, karena kita bermain di pembibitan bukan wagyonya. Untuk saat ini ada sekitar 100 embrio yang siap untuk ditanamkan. Dan saat ini hampir 50 persen dari sapi yang ada adalah bunting dan ini isinya wagyo semua, Jadi tunggu beberapa bulan sehingga lahir wagyonya. Selama ini berhasil apa yang kita lakukan, namun belum di Sumbar, wagyo yang dicoba dan berhasil beberapa tahun terkahir ada di Bogor," paparnya.

Ivan juga menuturkan, disamping hal tersebut, Moosa Edufarm juga menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk berwisata bersama keluarga dan orang-orang terkasih. "Disamping itu, hal ini juga salah satu langkah dalam mengundang orang ke pegunungan, yang hanya 40 menit dari ibukota provinsi, Padang. Dengan menikmati udara pegunungan dan juga belajar membawa anak-anak untuk menikmati dan belajar banyak hal disini," jelasnya.

baca juga: Positifers, Ini Rekomendasi Produk Ekowisata yang Bakal Diminati Usai Pandemi

"Apa yang didapat, yakni minimal ada informasi, ada background soal peternakan dan mengajarkan bagaimana reproduksi sapi serta menunjukkan bagaimana teknologi itu bisa diterapkan dalam peternakan. Selain itu, dalam kunjungannya ke Moosa Edufarm, pengujung bisa mencoba melakukan pemerahan susu sapi sendiri, jadi bisa merasakan jadi peternak dan diajarkan bagaimana melakukannya," paparnya.

Selain mendapatkan ilmu soal peternakan, pengunjung juga bisa menikmati hal lainnya, seperti perkebunan teh, memetik strawberry, dan tempat berfoto yang instagramable yang diharapkan orang betah. "Selain itu, area dengan luas 14 hektar ini akan bangun lagi untuk acara keluarga, ulang tahun, penginapan, pernikahan,dll," jelasnya.

Selama masa pandemi COVID-19, Moosa Edufarm membatasi jam operasional hanya di hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Ada empat sesi jam kunjungan berdurasi 1 jam yakni; jam 09.00-10.00, 10.00-11.00, 11.00-12.00, dan 13.00-14.00. Pengunjung per sesi juga dibatasi 20 orang saja, dan wajib mengikuti protokol kesehatan. Reservasi bisa melalui WA 082171107077 atau melalui IG @MoosaEdufarm.

Produk Moosa Farms seperti susu RTD, ice cream, gelato, dapat juga dinikmati di counter yang akan kami buka dalam waktu dekat di Sooki House di Jalan Proklamasi Padang, bertempat di Rumah Gadang RS BMC Padang.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno yang hadir dalam soft opening mengatakan Moosa Edufarm tidak hanya hadir untuk memenuhi kebutuhan dan suplai, namun juga mendidik dan mengajar orang disini.

"Ini gebrakan baru dalam pengembangan peternakan. Pemerintah mengucapkan terima kasih atas investasi yang masuk ke Sumbar. Ini peluang di masa pandemi," jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Prof Dr Yuliandri SH MH mengatakan untuk perguruan tinggi saat ini yang dituntut adalah soal pengembangan manusianya.

"Pengembangan manusia yang berat. Yang namanya kampus merdeka dan merdeka belajar adalah tantangan bagi perguruan tinggi. Jadi mahasiswa tidak hanya belajar teori di kampus tapi juga praktik langsung di lapangan atau perusahaan. Bagi kami di Unand punya fakultas peternakan dan kajian di pertanian adalah hal yang membantu dalam pengembangan di kedua bidang ini," jelasnya.

Hadir dalam soft opening tersebut, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Rektor Unand Prof Dr Yuliandri SH MH, Guru Besar Fakultas Pertanian Unand Prof Dr Ir Helmi MSc, dan tamu undangan lainnya. (*)

Editor: Fitria Marlina