Purui: Antara Pariwisata, Pandemi dan Perubahan Iklim

Wisatawan menikmari waktu senja di pantai Purui yang telah habis karena abrasi.
Wisatawan menikmari waktu senja di pantai Purui yang telah habis karena abrasi. (KLIKPOSITIF/Ramadhani)

PADANG KLIKPOSITIF - Berabad lalu sepanjang pesisir barat pantai Sumatera terdapat dua pelabuhan penting bagi Minangkabau. Pelabuhan Tiku di sekitaran Pariaman dan Pelabuhan Inderapura di ujung bagian Selatan. Keduanya menjadi pintu interaksi segala yang datang dari luar ke dalam alam Minangkabau dan sebaliknya.

Di antara kedua pelabuhan penting itu, di sepanjang bibir pantai, terserak perkampung nelayan begitu banyaknya. Salah satunya adalah Furui. Nama yang disematkan masyarakat Nias yang pertama-tama menetap di kawasan ini. Furui kata yang berarti melipat atau

baca juga: Habib Rizieq Diklaim Tidak Positif COVID-19, Wasekum FPI : Anak Sama Menantunya Juga Negatif

bergulung. Lidah masyarakat yang datang kemudian menyebutnya Purui atau Puruih.

Bangku-bangku kosong di sepanjang bibir Pantai Purui
Bangku-bangku kosong di sepanjang bibir Pantai Purui

Tak Jauh dari kawasan pantai ini terdapat sebuah muara kecil bernama Batang Arau. Kawasan inilah yang menjadi cikal Kota Padang . Batang Arau, tumbuh menjadi sentral dagang setelah Belanda memasuki Padang pada abad ke-17. Mereka kemudian membangun loji dan gudang-gudang dan menjadikan Padang sebagai kota basis perdagangan. Di dalamnya selama berabad-abad berbagai etnis berinteraksi dan menyatu, membentuk

baca juga: Tanah Datar Sudah Kirim 5.939 Sampel, 557 Orang Terkonfirmasi Positif COVID-19

masyarakat Padang hari ini.

Puruih atau sejak lama telah menjadi salah satu denyut yang memberi nafas kota Padang . Siang dan malam orang-orang dari berbagai penjuru datang untuk menyaksikan pantainya yang landai. Menikmati desir angin, ombak besar yang menghempas tiap sebentar, atau matahari yang berubah jingga ketika terbenam. Purui menjadi salah satu magnet wisata yang menjadi andalan Kota Padang . Namun pandemi yang menerpa Indonesia sejak Maret ikut memberi dampak bagi kehidupan wisata di Puruih, meski perlahan kondisi ini mulai berbalik arah.

Pedagang keliling melintas di kawasan pantai yang telah terkikis dihantam abrasi
Pedagang keliling melintas di kawasan pantai yang telah terkikis dihantam abrasi

Pandemi , hanyalah musuh sementara. Perubahan iklim telah mengintai landskap pantai ini sejak lama. Musuh yang terus membuat wajah Purui terus berubah. Kondisi yang jika tidak dihadapi dengan serius akan membawa dampak buruk dalam jangka waktu lama.

baca juga: Melalui Virtual Charity Run and Ride PLN, Sambung Listrik Gratis untuk Lebih Ribuan Rumah di Sumatera dan Kalimantan Barat

Turis lokal menjajal ombak Purui. Pantai yang landai membuatnya menjadi lokasi favorit bagi peselancar pemula
Turis lokal menjajal ombak Purui. Pantai yang landai membuatnya menjadi lokasi favorit bagi peselancar pemula
Pejalanan mengenakan masker melintas di sekitar kawasan pantai. Pandemi corona ikut memberi dampak pada kondisi wisata pantai.
Pejalanan mengenakan masker melintas di sekitar kawasan pantai. Pandemi corona ikut memberi dampak pada kondisi wisata pantai.
Pengunjung pantai berswafoto di Tugu Merpati Perdamaian yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Tugu ini menjadi simbol ikonik kawasan pantai Purui.
Pengunjung pantai berswafoto di Tugu Merpati Perdamaian yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Tugu ini menjadi simbol ikonik kawasan pantai Purui.
Seorang warga menikmati suasana senja di pantai Purui sembari bermain layangan
Seorang warga menikmati suasana senja di pantai Purui sembari bermain layangan

Editor: Ramadhani