Mengintip Sejarah Orang Rantai dari Lubang Tambang Sawahlunto

Patung yang dibangun untuk mengingat kerja-paksa yang dilakukan kolonial Belanda di Sawahlunto
Patung yang dibangun untuk mengingat kerja-paksa yang dilakukan kolonial Belanda di Sawahlunto (KLIKPOSITIF/Meidy)

SAWAHLUNTO , KLIKPOSITIF - Merinding ,barangkali adalah salah satu kesan pertama yang muncul pada setiap pengunjung yang datang ke Museum Tambang dan Lubang Mbah Soero di Sawahlunto . Seorang pengunjung bernama Freddy yang saya temui di lokasi wisata tersebut mengaku seperti merasakan beratnya beban para pekerja tambang di masa penjajahan dulu. Perasaan itu muncul setelah melihat kondisi di dalam lubang dengan lebar kurang lebih 1,5 meter tersebut.

Sejarah mencatat Tambang Mbah Soero mulai digali pada tahun 1898 oleh pekerja tambang dan pekerja paksa yang didatangkan dari Jawa. Lubang ini merupakan lubang tambang pertama di Patahan Soegar Sawahlunto . Kegiatan pertambangan ini dikomandoi oleh seorang Mandor bernama Soerono, nama yang kemudian menjadi nama dari objek wisata Lubang Mbah Soero. Orang-orang rantai begitu pekerja paksa itu biasa disebut, bekerja siang malam untuk mendapatkan batubara dengan menggunakan peralatan sederhana. Mereka hanya menggunakan sekop dan baling. Mereka bekerja dengan kondisi di rantai, baik di leher, tangan dan kaki.

baca juga: Pelanggaran Prokes di TMSBK, Ini Sanksi yang Diterima Kadisparpora Bukittinggi

“ Kita seperti bisa merasakan penderitaan dan beratnya beban pekerja tambang ini. Apalagi mereka bekerja sambil dirantai,” kata Freddy.

Lubang Mbah Soero pernah ditutup sebelum tahun 1930 karena tingginya rembesan air. Namun kembali pada tahun 2007 untuk dijadikan salah satu objek wisata unggulan di Sawahlunto . Lubang Mbah Soero kemudian dijadikan sebagai trademark wisata kota Sawahlunto , yang memang menjadikan wisata sejarah dan lambang baru kota tambang tersebut.

baca juga: Lurah Silaing Bawah Padang Panjang Prakarsai Wisata Alam Berbasis Pendidikan

Di Lubang Mbah Soero, pengunjung akan menyusuri lubang sepanjang kurang lebih 103 meter, dan akan melihat bekas galian batubara di sepanjang dinding lubang. Lubang setinggi kurang lebih 2 meter tersebut, dilengkapi dengan penerangan dan saluran udara untuk memenuhi kebutuhan oksigen selama pengunjung berada di dalam lubang. Inilah yang membuat suhu di dalam lubang terasa dingin dan lembab, yang membuat kondisinya menyeramkan bagi beberapa pengunjung.

“ Tidak terkesan seram banget, tapi memang bikin merinding , apalagi ada beberapa sisi lubang yang tertutup yang memberi kesan mistis, ” jelas Peri, pengunjung lain yang telah menyusuri lubang.

baca juga: Bangkit dari "Mati Suri" Setelah 44 Tahun, Stasiun KA Tertua di Sumbar Kembali Beroperasi

Apa yang disampaikan Peri menjadi wajar jika kita melihat berbagai koleksi yang ada di Gedung Galery Info Box. Galery yang berada satu kompleks dengan Lubang Mbah Soero. Dulunya ruangan ini adalah tempat berkumpulnya para pekerja tambang untuk mendiskusikan tentang apa yang dilakukan untuk meningkatkan hasil tambang. Di Galery ini, kita bisa melihat beberapa jenis rantai yang digunakan terhadap pekerja tambang. Mulai dari rantai leher, rantai kaki dan rantai tangan yang disebut sebagai koleksi asli, bisa ditemukan di Info Box.

Rantai ini ditemukan warga Sawahlunto bernama Roni pada tahun 2011 lalu, di pertemuan Sungai Batang Lunto dan Sumpahan. Keberadaan rantai ini seakan mengisahkan betapa beratnya penderitaan pekerja di masa penjajahan dulu. Jadi, kalau ingin belajar bagaimana sebuah perjuangan, berkunjung ke Lubang Mbah Soero bisa menjadi salah satu referensi untuk kita semua.

baca juga: Songsong Hari Pers Nasional, PWI Sawahlunto Gelar Aksi Peduli Covid-19 Tebar Masker

[Meidy Rosanna]

Penulis: Ramadhani